Tuesday, March 8, 2016

Vanderbilt University student slain in Israel was Army vet

NASHVILLE, Tenn. (AP) — A West Point graduate who served tours of duty in Iraq and Afghanistan was the Vanderbilt University student stabbed to death during a series of attacks in Israel, officials said.
Taylor Force, a 28-year-old MBA student, died during a school-sponsored trip to learn about startup companies overseas. Vanderbilt Chancellor Nicholas Zeppos, in a letter notifying students, faculty and staff, called the incident a "horrific act of violence" but provided no details.
A dozen Israelis, civilians and police officers, also were wounded in the knife and gun attacks that authorities in Tel Aviv said were carried out by Palestinians.
Along with the Jaffa attacker, three other Palestinian assailants were shot and killed in the day's rash of violence, the latest in a wave of near-daily Palestinian assaults on Israeli civilians and security forces that erupted in mid-September.
Force graduated from the U.S. Military Academy at West Point and served in the Army from 2009 to 2014, according to his LinkedIn page. He had been based at Fort Hood, Texas, as a platoon leader and fire support officer, among other duties.
Stuart Force, Taylor's father, spoke briefly with The Associated Press by phone.
"He was a great kid," he said before he received a call from family and ended the conversation.
Force went to high school at New Mexico Military Institute and was an Eagle Scout, according to the LinkedIn page. At West Point, Force was a member of the ski team and received a bachelor's degree in engineering and industrial management.
Zeppos said in his letter that the other 28 students and four Vanderbilt staffers on the trip were safe. The university is arranging for their return to the United States.
"This horrific act of violence has robbed our Vanderbilt family of a young hopeful life and all of the bright promise that he held for bettering our greater world," Zeppos wrote.
He said university resources are being made available for students, faculty and staff who may seek counseling.

To all my peoples.

Visit Israel to support them event though Asian Government announced to boycott Israel product and soon from out beloved country.

I realized how minorities live among majorities, I live in Indonesia since I was born and I can imagine how Israeli life right now without any support. All Indonesian Christian did their best to visit Israel to support them to fight terror in their land.

Lets Support Israel, do not boycott their product, do your best. It started from your self. We has nothing to do with Palestinian, and soon, stand in the right part.

I do support Israel. God bless you Israel, fight for your land, and you will get it.


Stand with..........






We.....Indonesian... are......


My flag and your flag "brother" in God


We do support Israel in Indonesia



Orang Indonesia Berkunjung ke Israel Tidak Etis?


Kunjungan Tantowi Yahya yang diundang pemerintah Israel secara pribadi, akhir-akhir ini mengundang sejumlah perdebatan. Ketua Dewan Penasihat Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jimly Asshiddiqie menyebut Tantowi “mungkin kilaf” dan disebutnya tidak bisa membaca “sikap politik rakyat Indonesia.” Pernyataan ini lalu mengundang pertanyaan: etiskah orang Indonesia berkunjung ke Israel? Merujuk kata “kilaf” yang dilempar Jimmy memberikan makna bahwa Tantowi melakukan sebuah kesalahan atau kata kasarnya dosa. Dalam konteks ini, berbicara dan membuka diri komunikasi dengan Israel adalah sebuah kesalahan dan sebuah dosa, tidak peduli apapun alasannya, mau itu perdamaian lah atau apalah....pokoknya haram. Itu artinya Mesir, negara Muslim yang selama ini mengakomodasi perdamaian Israel-Palestina selama bertahun-tahun hanya “kilaf” saja. Jimmy juga menyebut bahwa kunjungannya bertentangan dengan “sikap politik rakyat Indonesia.” Aneh. Tidak ada yang namanya rakyat memiliki sikap politik. Yang ada hanya garis kebijakan politik. Garis kebijakan politik anti-Zionis dibuat oleh sekelompok orang di politik. Kalau ada rakyat yang setuju, itu keputusan pribadi. Mengapa? Karena masalah pro, anti –Zionis maupun netral bukan keputusan universal yang dipegang oleh seluruh rakyat Indonesia. Pernyataan ini artinya mempolitisir rakyat Indonesia secara universal. Banyak komentar di Kompas.com dan media online lainnya yang menyebut Tantowi atau orang yang mendukung perjalanan Tantowi sebagai “orang yang tidak tahu sejarah.” Dengan sopan saya akan bertanya “Which one?” Zionis version atau Palestine’s version? Berapa banyak sih dari kita sekarang yang lahir sebelum tahun 1948 dan tinggal disana? Setelah postingan ini, saya akan menulis ringkasan Israel/Palestina sebelum 1948 karena kebanyakan postingan mengenai Zionis baik yang pro maupun kontra, lebih berlandaskan pada akibat ketimbang sebab. Lebih bertuju pada faktor emosi yang membuat kita kesal, terenyuh, tapi jarang yang mengedukasi. Kalau Tantowi yang pejabat dan sudah menyebut bahwa perjalanannya itu undangan pribadi, masih dihujat, bagaimana dengan pejabat lain? Bagaimana kalau Ahok yang Kristen itu pergi ke Israel untuk ziarah? Kalau dulu katanya dibilang nerima dana dari Vatikan pas Pilkada DKI, maka kalau yang berbau Zionis, konspirasinya mungkin bisa lebih dahsyat lagi. Bagaimana dengan ribuan atau puluhan ribu rakyat Indonesia yang berziarah ke Israel atau hanya sekadar berlibur? Bayangkan devisa yang diterima pemerintah Israel? Apakah aksi “memperkaya Israel” ini disebut sebagai aksi mengkhianati bangsa? Ketika anggota DPR plesiran keluar dengan menggunakan uang rakyat, BK DPR kayaknya tidak sepanas ini. Tapi giliran yang berbau Zionis, barulah BK bertindak melakukan “apa yang seharusnya mereka lakukan” beberapa tahun belakangan. Denmark, Jerman, Australia....ah terlalu banyak. Tapi sekali lagi kita harus berterima kasih karena berkat Tantowi, kita melihat pendapat-pendapat imut dari berbagai pihak. Ketua FPI Habib Riziq misalkan meminta Tantowi dipecat karena sudah melukai perasaan umat Islam. ''Dia bodoh, buta dan tuli mengatakan Israel tidak memusuhi Islam. Untuk itu, kami meminta Badan Kehormatan (BK) DPR memecat mereka semua,'' ujarnya sepeti dikutip Republika. Kembali lagi ke soal etis, tidak etis. Saya mau share sedikit. Dalam perjalanan menuju Taba, perbatasan Mesir dan Israel, guide saya menceritakan hal yang menarik. Sebelum tahun 2003, Indonesia mengeluarkan semacam travel regulation yang menyatakan bahwa warga Indonesia tidak bisa pergi ke dua negara: 1. Portugal (You know why) 2. Israel. Namun hal tersebut dihilangkan oleh Presiden Abdurahman Wahid dan orang Indonesia yang mau ziarah atau liburan sejak saat itu tidak harus menumpang tur ke negara dekat (eg: Singapura). Wow, berarti sebelum tahun 2003, kita sudah memperkaya bisnis travel di Singapura seberapa banyak? Yang membuat perjalanan ke Israel salah selama ini adalah persepsi kita yang salah mengenai status konflik Israel-Palestina. Penjajahan atau Perang Sipil? Nanti akan saya tuliskan di postingan selanjutnya yang membahas tentang Israel/Palestina sebelum 1948. Saya banyak membaca artikel Zionisme di Kompasiana, tapi sepertinya hampir tidak ada yang memberikan brief sejarah gerakan nasionalisme Yahudi dan Arab, jauh sebelum negara Israel dan Palestina berdiri.

sumber : http://www.kompasiana.com/anjohadi/orang-indonesia-berkunjung-ke-israel-tidak-etis_5520cb83a333115f4946ce35